Kangen bro, even the truth is i am a girl. Hhh!!! Muhammad fahri!!!! Kawini aku cepattttttttt!!!!
Tapi gambarnya indomie buatan Ibu. Emang pling bener sih ya.
Auf wiederseihen
I am so afraid to say goodbye to people. Actually, i feel like i've been isolated here, there's no one call me or try to call me. And i'm falling to the depht of despair.
My Mood Booster :)
Let's Stay Together
I, I'm so in love with youWhatever you want to do is all right with me'Cause you make me feel so brand newAnd I want to spend my life with you
Let me say that since, alright, since we've been togetherLoving you forever is what I needOh let me be the one you come running toI'll never be untrue
Oh let's, let's stay togetherLovin' you whether, whetherTimes are good or bad, happy or sad, alright, oh yeahWhether times are good or bad, happy or sad
Oh tell me why, why, why, why, why, whyWhy people break up, turn around and make up
I can't see, you never, never, never do that to meYou better not do, staying around you is all IAll these eyes will ever see
Why won't you say that me, everybody saysThat let's, let's stay togetherLovin' you whether, whetherTimes are good or bad, happy or sad
Everybody says, "Let's, let's stay togetherI'll keep on lovin' you whether, whetherTimes are, oh times are good or times are badWhether, whether good or bad, happy or sadOh yeah, oh yeah, oh yeah
--------------------------
"Whatever you want to do is all right with me'Cause you make me feel so brand new"
Dear You,
I'm so in love. really in love with you, until words wouldn't be enough to describe every single dots of my feeling for you. I know you were down. I know you were sad. But, this is me behind you. You could turn around to hug my soul, and listen to my whisper which surrounds you. No matter how hard the obstacle's ahead. No matter how fate is playing us as same as a game. We could keep holding our vow a year ago. That, we must be together forever.
You said, you're not gonna leave me. I said, I will be the best partner for your life.You are mine. I am Yours. Our love is indescribable. Our love is timeless. Our love is Us.
I love you.I love you.
Sorry, i am being so absurd.Sorry, i am being so rude.But, that's how i show you mine.
you are too good to be true for me. Thanks for everything. Thank you for gave me such a nice memories of our long climb stories.
I hope you always be good.I hope you'll find the new paths.I give you all my pray instead.
Thank you.Thank you.Thank you.
Bercerita Singkat #2
Saya membuat cerpen saya yang ke-2. Berdasarkan sebuah lagu yang membuat saya tergelitik untuk membuat cerita pendeknya. Sebuah lagu berjudul Midnight Sun.
Jutaan bintang bertebaran di langit. Kakiku mulai mengambil langkah kecil menyusuri jutaan bintang-bintang itu. Kadang telapak kakiku tertusuk, kadang telapak kakiku terasa geli, kadang pula telapak kakiku merasa nyaman. Awan hitam menemaniku menari didepan bulan yang terlihat lebih pucat malam ini. Matahari yang hanya memberikan cahayanya sedikit pada bulan sedang tertunduk, mengantuk. Bagai manusia yang sekarang sedang terlelap menikmati bunga tidur yang sedang mekar di alam bawah sadarnya.
Aku terus menari, menari hingga lelah. Sayangnya, energiku terlalu besar menapaki bintang cerah dan langit hitam. Apalah arti melelah jika aku masih terjaga. Keindahan malam benar-benar membuatku membuka mata lebih lebar. Retinaku membesar saat aku menemukan sebuah lumbuk diantara rasi-rasi bintang. Kulewati rasi bintang yang membentuk beruang yang tampak kesepian.
Kumasuki pintu lumbuk itu. Dan benar saja, puluhan triliun bintang sedang berembuk dengan cahyanya yang luar biasa. Aku diam. Terperangah. Tergiur untuk mengambil satu bintang saja. Kubawa satu untuk menjadi prestasi besar dalam hidupku, untuk membuat bangga ibuku, bahwa aku berhasil meraih satu bintang dan kubawa pulang.
Kububarkan konferensi triliun bintang itu. Gairah yang kugendong menjadi sebuah nafsu. Nafsu yang menjerumuskan aku dalam sebuah kata, obsesi. Butiran keringatku mulai berjatuhan. Metabolisme tubuhku dinyatakan cukup bagus.
Apa yang terjadi?
Satu persatu bintang yang memiliki kekuatan cahaya super itu, meredup. Apakah karena keringatku? Tidak mungkin. Mereka kuat, dan mereka bisa buatku kuat. Tapi, mereka menjauh. Sangat jauh dari tubuhku yang mengejar.
Aku gontai. Lumbuk itu pecah dan hanya menjadi taburan bintang pada umumnya. Aku menangis. Menangis keras.
Apa yang terjadi?
Aku berhenti menangis. Kususuri bintang-bintang. Semakin kupijak, semakin aku menginjak tumpukan pasir hitam. Aku menginjak langit hitam, bukannya bintang. Aku kembali bersedih. Lumbuk bintang itu hancur, dan langit mulai memusuhiku.
Aku sendiri. Dan terisolasi.
Bulan masih berwajah layu, terdapat lingkaran hitam dibawah matanya. Aku mencoba mendekati bulan yang beratus-ratus juta tahun menetap di tempatnya.
"Bulan, apakah engkau memusuhiku, layaknya keluargamu yang lain?"tanyaku.
Bulan membuka matanya lebih besar saat aku bertanya.
"Tidak, tidak sama sekali, dan mereka tidak memusuhimu, dan aku pun bukan temanmu" jawabnya panjang lebar.
"Jika mereka tidak memusuhiku, mengapa mereka menjauhiku? Padahal aku memiliki maksud baik"
"Sekali lagi aku bilang, mereka tidak memusuhimu dan pula mereka bukan temanmu" jawab Bulan tegas.
Aku terdiam. Jadi, selama ini, aku sebenarnya sendiri. Dan aku tidak menyadari selama sepanjang malam aku berdansa bersama mereka. Jadi sebenarnya, siapa aku di mata mereka?
"Kamu adalah kamu yang bukan kamu" sahut Bulan, menguap lagi.
"Lalu, aku siapa?"
"Kamu adalah manusia yang diciptakan Tuhan. Buatlah hatimu seperti kamu dilahirkan kembali, jangan kau pupuk sifat yang sebenarnya tidak kau suka, dan sekali lagi, bintang-bintang itu bukan temanmu, jangan kau mencoba berharap lebih dari mereka" Bulan kembali menguap, dan benar-benar tertidur.
Matahari menggeliatkan lidah apinya. Wajahnya tersenyum. Dan dia menyapaku.
"Halo, tempatmu bukan disini"
Dan salah satu lidah apinya mendorong tubuhku, hingga terlempar jauh dari mereka. Aku dilemparkan ke bumi. Kembali dengan nyaman diatas tempat tidurku.
Aku terdiam. Lagi. Melihat matahari memancarkan sinarnya. Dan, aku menyadari, sesungguhnya aku bukanlah siapa-siapa. Namun aku betul-betul mencintai mereka. Mencintai keindahan mereka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Suatu saat, suatu saat aku akan bersama mereka, dengan caraku sendiri, tentu saja, dengan cara yang aku suka.
bercerita singkat
Ya, kali ini saya hanya ingin berbahasa Indonesia, secara keseluruhan. Sebenarnya saya sangat suka menulis, tapi kadang-kadang jenis tulisan saya membuat dahi saya berkerut sendiri. Tapi keinginan saya menulis saya sekarang sedang meninju saya supaya menulis tulisan yang sesuai dengan hati saya sekarang.
Oke, coba kita simak, apakah saya memang berbakat dalam bidang menulis atau saya memang lebih jago dalam menulis lagu dan lirik. (cieh..padahal enggak jago)
HUMOR TUHAN
Kehadiran matahari pagi ini mengundang sekumpulan awan-awan dari berbagai arah mata angin untuk membuat sekutu kelabu. Berbagai doa saya keluarkan demi tidak datangnya tamu yang enggan saya temui. Hujan. Saya bukan pembenci hujan, tidak ada penyakit phobia yang dilebih-lebihkan media, hanya saja, hari ini adalah waktu yang saya nanti-nantikan. Dan, apabila hujan datang, mungkin tidak hanya basah yang akan saya rasakan, namun juga kekecewaan. Begitu pentingnya hari ini, hingga saya sebagai orang yang tidak memiliki tingkat kereligiusan tinggi, mampu mengucap sembarang doa, agar Tuhan mendengarkan saya.
Saya berada di pusat kota, di halte lebih tepatnya. Menunggu bis kota yang akan mengantar saya hingga tujuan. Tempat tujuan yang membuat jantung saya seperti akan loncat dalam hitungan detik.
1...
2...
3...
Sebulir menitik. Tepat diatas ubun-ubun. Wajah saya merengut. Doa-doa saya sudah seperti bisikan lelucon untuk Tuhan. Masuk telinga kiri-keluar telinga kanan. Saya menatap langit dengan pandangan marah. Dan mendung menertawai saya, dengan mengeluarkan tetes tetes hujan dengan bulatan air yang besar. Percuma saya marah. Saya tidak bisa melawan semesta.
Luapan emosi saya berbentuk helaan nafas panjang. Percuma.
Bis kota telah datang. Terpaksa saya menerobos jendela air itu. Berusaha berlari secepat kilat, dan kaki saya terantuk aspal yang mengepal. Terjerembablah tubuh tambun ini. Dan pakaian yang sudah saya siapkan dengan konsep yang matang, lebih basah dan bernoda.
Saya berdiri. Rasanya mata panas bukan kepalang, tumpukan air di pelupuk matapun sudah siap keluar. Wajah yang sudah ditata apik, dibasuh dengan make up sederhana, luntur tak berbekas. Saya menaiki bis kota tersebut. Seperti lakon dalam tokoh film, penumpang dalam bis melihat saya dengan tatapan naas.
Seorang lelaki dengan pakaian preman mendorong saya masuk, lebih dalam lagi hingga saya terdesak oleh para penumpang bis lainnya. Saya menggenggam erat tas tangan saya. Dan seorang pria berdiri, mempersilahkan saya untuk duduk di tempat yang dia duduki sebelumnya. Tanpa berterima kasih saya duduk. Pria tersebut tampak menyesal memberikan kursinya.
Perjalanan terasa lebih panjang daripada biasanya. Hujan yang deras membuat lalu lintas lebih kacau. Saya kembali berdoa. Doa sembarang tentunya, saya hanya tahu surah Al-fatihah dan Al-ikhlas. berbelas-belas kali saya teriakkan dalam hati dengan mata memejam. Tetap, Lalu lintas tidak bergerak sedikitpun. Saya yang bukan pengguna jam tangan kelimpungan menanyakan jam pada penumpang yang duduk disebelah saya, tidak hanya sekali, mungkin, tiap 2 menit saya menanyakan pukul berapa sekarang.
Oh Tuhan, tega sekali.
3 jam perjalanan, dan saya baru bisa menginjakkan kaki di halte yang saya tuju, tujuan utama saya memang bukan halte, tapi dengan saya menaruh tapak kaki saya di halte ini, saya bisa sedikit bernafas lega. Lalu, saya berlari sekencang mungkin. Hingga saya menemukan sebuah, tempat makan sederhana di sudut jalan.
Bangunan tua yang tertata manis, penuh bunga yang basah karena hujan yang tak urun berhenti. Saya dengan langkah tegas memasuki bangunan tersebut. Mencari, sosok yang membuat jantung saya melompat, membuat saya emosi dengan Tuhan, membuat saya lupa berterima kasih dengan orang yang memberi saya tempat duduk, lupa memberikan ucapan selamat jalan pada wanita yang memberi tahu waktu setiap menitnya pada saya.
Dia.
Dia.
Kursi itu kosong. Cangkir pesanannya pun sudah tidak ada. Meja putih itu bersih tanpa ada bekas. Saya bungkam. Diam seribu bahasa. 3 jam memang waktu yang lama untuk menunggu. Kebahagiaan itu turun menjadi Kekecewaan. Tidak sesuai dengan ekspektasi bahwa hujan akan menghalangi kebahagiaan ini. Siapa yang bisa mengatur cuaca? Ya pasti Tuhanlah, tuh.. tahu jawabannya. Dan Tuhan seperti memberikan permainan lempar batu pada saya hari ini.
Dan Hujan berhenti.
Betul-betul mempermainkan mental.
Saya duduk di meja putih tersebut. Memesan satu gelas teh hangat. Ukuran Jumbo. Dengan harapan, panas di hati ini akan meluntur ketika air teh hangat mengalir hingga terasa di dada.
Kipas angin yang terpasang di sudut dinding dalam bangunan tua ini bekerja cukup keras, suara mesin yang hampir menyerupai batuk kakek-kakek tua menjadi sebuah nada tersendiri di gendang telinga saya.
Entah kenapa, saya suka sekali berdoa. Masih dua doa yang sama saya dendangkan dengan lagu yang saya samakan dengan nada imajiner saya. Berharap akan datangnya solusi hati.
Sebuah tangan menepuk bahu saya. Saya memejamkan mata pelan. Nafas saya tercekat. Hati saya kembali berdisko. Oh Tuhan. Ini Humormu? Kalau betul, ini sama sekali tidak lucu, batin saya sambil tersipu malu.
SEKIAN
I FOUND IT!!
so, couple days ago, i was googling nixon watch that i really fall into. and here it is!!!
ARRGGGGGHHHHHHHH!!!!!!!! EXACTLY THE SAME AS I'VE WANTED!!! ARGHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!! HUHUHUHUHU...Y U SO XPENSIVE????
ARRGGGGGHHHHHHHH!!!!!!!! EXACTLY THE SAME AS I'VE WANTED!!! ARGHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!! HUHUHUHUHU...Y U SO XPENSIVE????
Langganan:
Postingan (Atom)



